Cari Blog Ini

Kamis, 23 Juni 2011

Logika; Penalaran Tidak Langsung, Silogisme

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam mempelajari ilmiah yang menunjuk ke arah kebenaran, logika sangat penting dan berpengaruh. Sedangkan dalam menemukan suatu kebenaran, banyak cara-cara maupun langkah-langkah dalam ilmu logika, seperti pernyataan, penarikan kesimpulan, silogisme dan lain-lain.

B. Rumusan Masalah
1. Penalaran Tidak Langsung
2. Pengertian, hukum, bentuk, susunan dan modus silogisme

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui Penalaran Tidak Langsung
2. Untuk mengetahui pengertian, hukum, bentuk, susunan dan modus silogisme



BAB II
PEMBAHASAN

A. Penalaran Tidak Langsung
Dua bentuk utama penalaran tidak langsung, yaitu induksi dan deduksi. Keduanya dapat dibedakan, tetapi dalam prakteknya keduanya tidak dapat dipisahkan dan saling mengisi.
1. Induksi
Induksi adalah suatu penalaran yang menyimpulkan suatu proposisi umum dari sejumlah proposisi khusus yang berbentuk ‘S ini adalah P’ (subjek ini adalah predikat).
Dalam induksi kesimpulan yang dicapai selalu berupa generalisasi (pengumuman), misalnya: “air kotor menyebabkan penyakit kulit”. Setiap generalisasi induktif diperoleh sesudah dilakukan pengamatan bahwa beberapa atau banyak kejadian berakhir dengan hasil yang sama, maka kemudian si pengamat ‘yakin’ bahwa diwaktu yang akan datang, suatu kejadian yang sama juga akan berakhir dengan hasil yang sama.
a. Induksi tidak Lengkap dan Hakikat kesimpulannya
Induksi tidak lengkap adalah mengamati kejadian-kejadian tetapi tidak diamati atau diselidiki secara menyuluruh namun sudah mengambil suatu kesimpulan umum. Jenis induksi tidak lengkap inilah yang sering kita jumpai. Alasannya sederhana, karena keterbatasan manusia.
Penalaran induktif, sesuai dengan sifatnya, tidak memberikan jaminan bagi kebenaran keimpulannya. Meskipun, misalnya, permis-permisnya semua benar, tidaklah secara otomatis membawa akibat pada kebenaran kesimpulan.


b. Induksi dan Metode Ilmiah
Hubungan induksi dengan metode Ilmiah adalah induksi merupakan dasar metode Ilmiah.
2. Deduksi
Deduksi adalah mengambil suatu kesimpulan yang hakikatnya sudah tercakup di dalm suatu proposisi atau lebih. Kesimpulan tersebut benar-benar sesuatu yang baru dan muncul sebagai konsekuen dari hubungan-hubungan yang terlihat dalam proposisi atau proposisi-proposisi tadi.
Manakala penalaran deduktif diambil struktur intinya dan dirumuskan secara singkat, maka dijumpailah bentuk logis pikiran yang disebut silogisme.

B. Silogisme
Silogisme adalah proses logis yang terdiri dari tiga bagian. Dua bagian pertama merupakan premis-premis atau pangkal tolak penalaran syllogistik. Sedangkan bagian ketiga merupakan perumusan hubungan yang terdapat antara kedua bagian pertama melalui pertolongan term penengah (M). Bagian ketiga ini disebut juga kesimpulan yang berupa pengetahuan baru. Proses menarik suatu kesimpulan dari pemis-premis tersebut disebut penyimpulan.
Suatu premis adalah suatu pernyataan yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga pernyataan tadi menegaskan atau menolak bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar. Suatu premis dapat mengatakan suatu fakta, suatu generalisasi, atau sekedar suatu asumsi atau sesuatu yang spesifik.
1. Syllogisme Kategoris
Syllogisme kategoris adalah stuktur suatu deduksi berupa suatu proses logis yang terdiri dari tiga bagian yang masing-masing bagiannya berupa pernyataan kategoris (pernyataan tanpa syarat). Atau dengan kata lain Syllogisme Kategoris adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan proposisi kategoris. Untuk lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal. Sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus partikular atau singular, tetapi bisa juga proposisi universal, tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya. Dengan demikian satu pangkalan umum dan satu pangkalan khusus dapat dihubungkan dengan berbagai cara, tetapi hubungan itu harus diperhatikan kualitas dan kuantitasnya agar kita dapat mengambil konklusi yang valid. Pangkalan umum disini adalah proposisi pertama sebagai pernyataan universal yang ditandai dengan kuantifier ‘semua’ untuk menegaskan adanya sifat yang berlaku bagi manusia secara menyeluruh. Pangkalan khususnya adalah proposisi kedua, meskipun ia juga merupakan pernyataan universal ia berada di bawah aturan pernyataan pertama. Bila pangkalan khususnya berupa proposisi singular, prosedur penyimpulannya juga sama.
Pernyataan : Semua mahasiswa adalah terdidik
Hasan adalah mahasiswa
Maka kesimpulannya adalah : Hasan adalah terdidik.
Proposisi yang menjadi pangkalan umum dan pangkalan khusus disebut premis, sedangkan proposisi yang dihasilkan dari sintesis kedua premisnya disebut kesimpulan (konklusi) dan term yang menghubungkan kedua premis disebut term penengah (middle term). Premis yang termnya menjadi subyek pada konklusi disebut premis minor. Premis yang termnya menjadi predikat pada konklusi disebut premis mayor. Dikatakan demikian karena predikat hampir selalu lebih luas dari pada subyeknya.
• Hukum-hukum Silogisme Kategorik
1) Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga, seperti:
Semua yang halal dimakan menyehatkan
Sebagian makanan tidak menyehatkan, jadi
Sebagian makanan tidak halal dimakan
(kesimpulan tidak boleh : semua makanan tidak halal dimakan).
2) Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga, seperti :
Semua korupsi tidak disenangi
Sebagian pejabat adalah korupsi, jadi
Sebagian pejabat tidak disenangi
(kesimpulan tidak boleh : sebagian pejabat disenangi)
3) Dari dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.
Beberapa orang kaya kikir
Beberapa pedagang adalah kikir
Jadi: Beberapa pedagang adalah kikir
Kesimpulan yang diturunkan dari premis partikular tidak pernah menghasilkan kebenaran yang pasti.
4) Dari dua premis yang sama-sama negatif, tidak menghasilkan kesimpulan apapun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan dapat diambil bila sedikitnya salah satu premisnya positif. Kesimpulan yang di tarik dari dua premis negative adalah tidak sah.
5) Paling tidak salah satu dari term penengah harus tertebar ( mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak tertebar akan menghasilkan kesimpulan yang salah.
6) Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah.
7) Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.
8) Silogisme harus terdiri dari 3 term, yaitu term subjek, term predikat, dan term middle. Apabila terdiri dari sebuah term tidak bisa diturunkan konklusi, begitu pula bila terdiri dari dua atau lebih dari tiga term.
• Bentuk-bentuk Silogisme Kategorik.
Berdasarkan letak medium (term penengah = middle term) dalam premis, ada 4 macam :
1. Medium menjadi subjek pada premis mayor dan menjadi predikat premis pada premis minor.
2. Medium menjadi predikat baik pada premis mayor maupun premis minor.
3. Medium menjadi subjek pada premis mayor maupun premis minor.
4. Medium menjadi predikat pada premis mayor dan menjadi subjek pada premis minor.
• Absah dan Benar
Dalam membicarakan silogisme kita harus mengenal dua istilah yaitu absah dan benar.
Absah (Valid) berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan diatas dan dikatakan tidak valid bila sebaliknya.
Benar berkaitan dengan proposisi dalam silogisme itu, apakah ia didukung atau sesuai dengan fakta atu tidak. Bila sesuai dengan fakta, proposisi itu benar, bila tidak ia salah.
• Silogisme Bukan Bentuk Baku
Dapat terjadi karena :
a. Tidak menentu letak konklusinya
b. Atau disana seolah-olah terdiri dari tiga term
c. Atau hanya terdapat dua premis tanpa konklusi atau satu premis satu konklusi.
d. Atau proposisinya lebih dari tiga.
2. Syllogisme hipotesis
Syllogisme hipotetis adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari.
Pada silogisme hipotetik term konklusi adalah term yang kesemuanya dikandung oleh premis mayornya, mungkin bagian anteseden dan mungkin pula bagian konsekuennya tergantung oleh bagian yang diakui atau dipungkiri oleh premis minornya.
• 4 macam tipe silogisme hipotetik
1. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian autecedent.
2. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
3. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari autecedent.
4. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
• Hukum-hukum Silogisme Hipotetik
Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih muda dibanding dengan silogisme kategorik. Namun yang penting disini adalah menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
1. Bila Antecedent terlaksana maka konsekuen juga terlaksana
2. Bila Antecedent tidak terlaksana maka konsekuen tidak terlaksana (tidak sah = salah)
3. Bila konsekuen terlaksana, maka Antecedent terlaksana (tidak sah = salah)
4. Bila konsekuen terlaksana maka Antecedent tidak terlaksana.


3. Silogisme Disyungtif
Silogisme disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif. Sedangkan, premis minornya keputusan kategorika yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor.
Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Seperti : Ia lulus atau tidak lulus
Ternyata ia lulus, jadi
ia bukan tidak lulus.
Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.
Seperti : Hasan di rumah atau di pasar
Ternyata tidak di rumah
jadi di pasar.
Baik dalam arti luas maupun sempit mempunyai 2 tipe yaitu:
1. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusinya adalah mengakui alternatif yang lain.
2. Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif lain.
• Hukum-hukum silogisme disyungtif
1. Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid.
2. Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya:
a. Bila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah. (benar).
b. Bila premis minor mengingkari salah satu alternatif, konklusinya tidak sah (salah).

4. Dilema
Dilema adalah semacam pembuktian, argumentasi, yang di dalamnya terdiri dari silogisme hipotetik dan silogisme disyungtif. Terjadi karena premis mayornya terdiri dari dua proposisi hipotetik dan premis minornya satu proposisi disyungtif. Konklusinya, berupa proposisi disyungtif, tetapi bisa proposisi kategorika. Dalam dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya sama berat. Konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan.
• Cara Mengatasi Dilema
a. Dengan meneliti kausalitas premis mayor
b. Dengan meneliti alternative yang dikemukakan
c. Dengan kontra dilema
d. Dengan memilih alternatif yang paling ringan
• Hukum-hukum Dilema
1. Putusan disyungtif harus lengkap, menyebut semua kemungkinan.
2. Konsekuensinya harus sah
3. Kesimpulan lain tidak mungkin (tidak boleh dapat di –‘retorsi’ atau dibalik)



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Penalaran tidak langsung terdapat dua bentuk utama yaitu; induksi dan deduksi. Induksi adalah suatu bentuk penalaran yang menyimpulkan suatu proposisi umum dari sejumlah proposisi khusus yang terbentuk ‘S ini adalah P’. sedangkan deduksi adalah mengambil suatu kesimpulan yang hakikatnya sudah tercakup di dalam suatu proposisi atau lebih. Dalam penalaran dapat dijumpai silogisme antara lain:
• Silogisme kategoris
• Silogisme hipotetis
• Silogisme Disyungtif



DAFTAR PUSTAKA


Mundiri, H. 1994. Logika. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Poedjawijatna. 1984. Logika Filsafat Berfikir. Jakarta: Rineka Cipta.
Rapar, Jan Hendrik. 1996. Pengantar Logika. Yogyakarta: Kanisius.
W, Poespoprojo. 1999. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Pustaka Grafika.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN(RPP)

Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
Mata Pelajaran : Fiqih
Kelas/Semester : X /1
Alokasi Waktu : 1x Pertemuan (2x45 menit)
Standar Kompetensi:
Memahami Thoharoh dari hadats besar (mandi wajib)
Kompetensi Dasar :
1. Mengetahui sebab-sebab mandi wajib
2. Mengetahui tata cara mandi wajib
Indikator:
Setelah pembelajaran ini selesai, diharapkan siswa-siswi mampu:
1. Menjelaskan perkara-perkara yang mewajibkan mandi
2. Membedakan antara perkara yang mewajibkan mandi dan mewajibkan wudhu
3. Menjelaskan syarat dan rukun mandi wajib
4. Mempraktekkan mandi wajib dengan baik dan benar
A. Materi Pokok
Thoharoh (bersuci) dari hadats besar (mandi wajib)
B. Metode Pembelajaran
Diskusi, Tugas Individu, Tanya Jawab, Ceramah
C. Kegiatan Pembelajaran
Waktu Langkah Pembelajaran Metode Bahan
10’ Kegiatan Awal
1. Guru memberi salam lalu membimbing siswa berdo’a sebelum pembelajaran dimulai
2. Guru menyampaikan kompetensi dasar dan indikator yang akan dicapai
3. Guru menyampaikan pentingnya pembelajaran ini



Presentasi

presentasi



Slide Power Point

Slide Power Point

5’
5’




25’

20’

10’ Kegiatan Inti
1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok,
2. Selanjutnya kelompok masing-masing mengambil kertas yang berisi materi yang berbeda, yaitu:
a. Perkara yang mewajibkan mandi
b. Syarat dan rukun mandi wajib
3. Setiap kelompok mendiskusikan materi yang telah diberikan oleh guru
4. Guru meminta tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
5. Guru memberikan penguatan dan merangkum hasil diskusi.
Resitasi

Diskusi



Diskusi

Presentasi

Presentasi

Buku PAI kelas X dan beberapa Referensi


Buku PAI kelas X

Hasil diskusi

Slide power point

5’

5’
Kegiatan Penutup
1. Siswa menarik kesimpulan tentang perkara yang mewajibkan mandi
2. Siswa menyampaikan refleksi setelah mempelajari mandi wajib
Presentasi

Presentasi
Hasil diskusi

Hasil diskusi

5’ Kegiatan Tindak Lanjut
1. Guru meminta siswa untuk mengerjakan tugas individu dan hasilnya dikumpulkan pada pertemuan berikutnya
Resitasi
Uraian materi & beberapa referensi

D. Media
Kertas Kosong, Papan, Spidol, Uraian materi, LCD, Slide Power Point
E. Penilaian
1. Tes Tulis
2. Penilaian Kinerja (Performance)
Uraian Materi
THOHAROH (BERSUCI) DARI HADATS BESAR( MANDI WAJIB)
Yang dimaksud dengan mandi adalah mengalirkan air ke seluruh badan (mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki) dengan niat.
Kemudian yang disebut dengan mandi wajib adalah mandi dengan menggunakan air suci dan bersih yang mensucikan dengan mengalirkan air tersebut ke seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tujuan untuk menghilangkan hadats besar yang harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah khususnya sholat.
A. SEBAB-SEBAB MANDI WAJIB
1. Bersetubuh, baik keluar mani tau tidak
2. Keluar mani, baik keluarnya karena bermimpi ataupun sebab lain dengan sengaja atau tidak, dengan perbuatan sendiri atau tidak
3. Mati, orang islam yang mati, fardu kifayah atas muslimin yang hidup memandikannya, kecuali orang yang mati syahid
4. Haid, apabila seorang perempuan telah berhenti dari haid, ia wajib mandi agar ia dapat mengerjakan sholat dan ibadah lainnya.
5. Nifas, yang dinamakan nifas adalah darah yang keluar dari farji perempuan sesudah melahirkan.
6. Melahirkan (wiladah)
B. FARDU (RUKUN) MANDI
1. Niat: pada saat memulai membasuh tubuh. Lafazh niat mandi wajib: "nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari janabati fardlal lillaahi ta'aalaa" (artinya: aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar dan najis fardlu karena Allah).
2. Membasuh seluruh badan dengan air, yakni meratakan air ke semua rambut dan kulit.
3. Keramas, lalu membasuhnya sebanyak 7 kali
4. Berwudhu, namun membasuh semua setiap bagiannya dengan penuh.berbeda dengan berwudhu biasa.
5. Menyiram seluruh anggota tubuh sebanyak 3 kali, dimulai dari kanan lalu di lanjutkan yang kiri.
6. Setelah selesai mengucapkan "Alhammdulillah".
C. SUNNAH MANDI
1. Mendahulukan membasuh segala kotoran dan najis dari seluruh badan.
2. Membaca "Bismillaahirrahmaanirrahiim" pada permulaan mandi.
3. Menghadap kiblat sewaktu mandi dan mendahulukan yang kanan daripada yang kiri.
4. Membasuh badan sampai tiga kali.
5. Membaca do’a sebagaimana membaca do’a sesudah berwudlu.
6. Mendahulukan mengambil air wudlu, yakni sebelum mandi disunnatkan berwudlu lebih dahulu.
7. Berturut-turut
D. TATA CARA MANDI WAJIB
Adapun tata caranya adalah berdasarkan hadits dari Aisyah r.a., ia berkata, Dahulu, jika Rasulullah SAW hendak mandi janabah (junub), beliau membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalu beliau mengambil air dan memasukan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada riwayat lain dikatakan, dan dimasukannya jari - jari ke dalam urat rambut hingga bila dirasanya air telah membasahi kulit (kepala). disauknya dua telapak tangan lagi dan disapukannya ke kepalanya sebanyak 3 kali, kemudian dituangkan ke seluruh tubuh. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadits di atas maka urutan tata cara mandi wajib adalah :
 Membasuh kedua tangan
 Membasuh kemaluan
 Berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat (Boleh menangguhkan membasuh kedua kaki sampai selesai mandi) (Fikih Sunnah hal. 154)
 Mencuci rambut dengan cara memasukan jari - jemari ke pangkal rambut
 Menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3x atau mengambil air dengan kedua tangan kemudian menyapukannya ke kepalanya.
 Mengguyur seluruh badan
 Membasuh kaki

REFERENCES

Forum Komunikasi Guru PAI Kabupaten Lamongan. Lembar Kerja Siswa. Surakarta: Obor Sewu Mandiri. 2006.
http://aguswuryanto.wordpress.com/hello/
http://arudianto.blogspot.com/2011/05/pengembangan-bahan-ajar.html
http://blog.re.or.id/tata-cara-mandi-wajib-yang-benar.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Mandi_wajib
http://organisasi.org/pengertian-mandi-wajib-besar-junub-tata-cara-dan-hukum-dalam-islam.
Rasjid, Sulaiman. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru

Rabu, 15 Juni 2011

MAKALAH PSIKOLOGI BELAJAR PAI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai seorang guru yang sehari-hari mengajar di sekolah, tentunya tidak jarang harus menangani anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Hal ini terkadang membuat guru menjadi frustasi memikirkan bagaimana menghadapi anak-anak seperti ini. Demikian juga para orang tua yang memiliki anak yang mempunyai kesulitan dalam belajar.
Akan tetapi yang lebih menyedihkan adalah perlakuan yang diterima anak yang mengalami kesulitan belajar dari orang tua dan guru yang tidak mengetahui masalah yang sebenarnya, sehingga mereka memberikan cap kepada anak mereka sebagai anak yang bodoh, tolol, ataupun gagal.
Dalam makalah ini, kita akan mendapati apa sebenarnya yang dimaksud masalah kesulitan belajar, faktor apa yang menjadi penyebabnya, serta metode yang dapat digunakan untuk membantu anak yang mengalami kesulitan dalam belajar.

B. Rumusan Masalah
1. Definisi kesulitan belajar
2. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
3. Usaha mengatasi kesulitan belajar

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi kesulitan belajar
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
3. Mengetahui usaha dalam mengatasi kesulitan belajar

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Kesulitan Belajar
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak. Kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa sangat sulit. Dalam semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Demikian keadaan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.
Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual inilah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. “Dalam keadaan di mana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar”.
Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidakmampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor inteligensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non-inteligensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar.
Macam-macam kesulitan belajar ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut: dilihat dari jenis kesulitan belajar, ada yang berat ada yang sedang. Dilihat dari bidang studi yang dipelajari, ada yang sebagian bidang studi ada yang keseluruhan bidang studi. Dilihat dari sifat kesulitannya, ada yang sifatnya permanen (menetap) dan ada yang sifatnya hanya sementara. Dilihat dari segi faktor penyebabnya, ada yang karena faktor inteligensi dan ada yang karena faktor bukan inteligensi.

B. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Problem kesulitan belajar, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk memberikan bantuan dalam mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh anak didik, tentunya kita harus mengetahui lebih dulu apa saja faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan kedalam dua golongan, yaitu :
1. Faktor intern (faktor dari dalam anak itu sendiri) yang meliputi:
a. Faktor fisiologis
Faktor fisiologi adalah faktor fisik dari anak itu sendiri. Seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, karena saraf sensoris dan motorisnya lemah sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran menjadi tidak sempurna. Kemudian karena kurang sehat, anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar sebab ia mudah capek, mengantuk, pusing, dan konsentrasinya hilang. Sehingga penerimaan respon tidak maksimal. Selain itu, faktor fisiologis yang perlu kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.
b. Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan dengan perilaku yang ada dan dibutuhkan dalam belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan, ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam faktor psikologis ini adalah inteligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki IQ cerdas (110-140), atau genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90-110) tentunya tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 90 atau bahkan di bawah 60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu maka orang tua serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki anak atau anak didiknya.
Selain IQ, faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah bakat. Bakat adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir, setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda.
Kemudian minat, tidak adanya minat seorang anak terhadap suatu pelajaran akan menimbulkan kesulitan belajar. Mengapa? Karena dengan tidak adanya minat, pelajaran pun tidak pernah terjadi prosesnya dalam otak. Ada tidaknya minat, dapat kita ketahui dari cara anak mengikuti pelajaran.
Selain IQ dan minat juga ada motivasi. Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan. Sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan belajarnya.
Selain itu faktor kesehatan mental. Hubungan kesehatan mental dengan belajar adalah timbal balik. Kesehatan mental dan ketenangan akan menimbulkan hasil belajar yang baik.
Dan yang tidak kalah penting juga adalah tipe anak dalam belajar. Ada tipe visual, motoris dan campuran. Seorang yang bertipe visual akan cepat mempelajari bahan-bahan yang disajikan secara tertulis, bagan, grafik, gambar, dan sebagainya. Anak yang bertipe auditif mudah mempelajari bahan yang disajikan dalam bentuk-bentuk suara (ceramah). Individu yang bertipe motorik, mudah mempelajari bahan yang berupa tulisan-tulisan, gerakan-gerakan, dan sulit mempelajari bahan yang berupa suara dan penglihatan.
2. Faktor ekstern (faktor dari luar anak) meliputi :
a. Faktor-faktor sosial
Yaitu faktor-faktor seperti cara mendidik anak oleh orang tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang mendapatkan perhatian, atau anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagaimana hubungan orang tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang bretemu, atau bahkan terpisah. Selain itu ada media massa, lingkungan tetangga, teman bergaul, aktivitas dalam masyarakat. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar anak.
b. Faktor-faktor non-sosial
Faktor-faktor non-sosial yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah faktor guru di sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta kurikulum.

C. Usaha mengatasi kesulitan belajar

Dalam mengatasi kesulitan belajar, tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor kesulitan belajar sebagaimana yang telah diuraikan. Karena itu, mencari sumber-sumber penyebab adalah menjadi mutlak adanya dalam rangka mengatasi kesulitan belajar.
Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap yaitu:
1. Pengumpulan Data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar,diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi tersebut, maka perlu diadakan suatu pengamatan langsung yang disebut dengan pengumpulan data. Menurut Sam Isbani dan R. Isbani, dalam pengumpulan data dapat menggunakan berbagai metode, di antaranya adalah Observasi, Kunjungan Rumah, Case Study, Case History, Daftar Pribadi, Meneliti Pekerjaan Anak, Tugas Kelompok, dan Melaksanakan Tes (baik tes IQ maupun Tes Prestasi/Achievement Test).
Dalam pelaksanaannya, metode-metode tersebut tidak harus semuanya digunakan secara bersama-sama akan tetapi tergantung pada masalahnya, kompleks atau tidak. Semakin rumit masalahnya maka kemungkinan akan semakin banyak metode yang digunakan. Dan sebaliknya. Data yang terkumpul dari berbagai metode yang kita gunakan, akan sangat bermanfaat dalam rangka kegiatan pada langkah selanjutnya.
2. Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul, tidak akan berarti apa-apa jika tidak dilakukan pengilahan secara cermat. Dalam pengolahan data, langkah yang dapat ditempuh antara lain adalah Mengidentifikasi kasus, Membandingkan antar kasus, Membandingkan dengan hasil tes, dan Menarik kesimpulan.
3. Diagnosa
Diagnosa adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosa ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut, Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak (berat dan ringannya). Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar. Keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar dan sebagainya.
Dalam rangka diagnosa ini biasanya diperlukan berbagai bantuan tenaga ahli, misalnya:
• Dokter, untuk mengetahui kesehatan anak.
• Psikolog, untuk mengetahui tingkat IQ anak.
• Psikiater, untuk mengetahui kejiwaan anak.
• Social worker, untuk mengetahui kelainan sosial yang mungkin dialami anak.
• Ortopedagogik, untuk mengetahui kelainan-kelainan yang ada pada anak.
• Guru kelas, untuk mengetahui perkembangan belajar anak selama di sekolah.
• Orangtua anak, untuk mengetahui kebiasaan anak di rumah, dll.
4. Prognosa
Prognosa artinya: “ ramalan ”. Dalam “Prognosa” ini antara lain akan ditetapkan mengenai bentuk “treatment” (perlakuan) sebagai follow up dari dari diagnosa. Dalam hal ini dapat berupa Bentuk treatment yang harus diberikan, Bahan/materi yang diperlukan, Metode yang akan dipergunakan, Alat-alat bantu belajar mengajar yang diperlukan, Waktu ( kapan kegiatan itu dilaksanakan). Pendek kata, Prognosa adalah merupakan aktivitas penyusunan rencana/program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar anak.

5. Treatment (perlakuan)
Perlakuan di sini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan (yang mengalami kesulitan belajar) sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosa tersebut. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan, adalah Melalui bimbingan belajar kelompok, Melalui bimbingan belajar individual, Melalui pengajaran remedial dalam beberapa bidang studi tertentu, Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis, Melalui bimbingan orang tua, dan pengatasan kasus sampingan yang mungkin ada.
6. Evaluasi
Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui, apakah treatment yang telah diberikan di atas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan, atau bahkan gagal sama sekali. Kalau ternyata treatmen yang diterapkan tersebut tidak berhasil maka perlu ada pengecekan kembali ke belakang, faktor-faktor apa yang mungkin menjadi penyebab kegagalan treatmen tersebut.
Alat yang digunakan untuk evaluasi ini dapat berupa Tes Prestasi belajar (Achievement Test). Untuk mengadakan pengecekan kembali atas hasil treatment yang kurang berhasil, maka secara teorotis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah Re Ceking data (baik pengumpulan maupun pengolahan data). Re Diagnosa, Re Prognosa, Re Treatment, dan Re Evaluasi.

 Beberapa kesulitan dalam belajar dan cara mengatasinya
1) Keterlambatan membaca (disleksia)
Anak yang memiliki keterlambatan kemampuan membaca, mengalami kesulitan dalam mengartikan atau mengenali struktur kata-kata atau memahaminya. Cepat melupakan apa yang telah dibacanya.
Beberapa kesulitan bagi anak-anak penderita disleksia adalah sebagai berikut :
a) Membaca dengan sangat lambat dan dengan enggan.
b) Menyusuri teks pada halaman buku dengan menggunakan jari telunjuk.
c) Mengabaikan suku kata, kata-kata, frase, atau bahkan baris teks.
d) Menambahkan kata-kata atau frase yang tidak ada dalam teks.
e) Membalik urutan huruf atau suku kata dalam sebuah kata.
f) Salah dalam melafalkan kata-kata, termasuk kata-kata yang sudah dikenal.
g) Mengganti satu kata dengan kata lain, meskipun kata yang digantikan tidak mempunyai arti dalam konteksnya.
h) Menyusun kata-kata yang tidak mempunyai arti.
i) Mengabaikan tanda baca.
Cara yang paling sederhana, paling efektif untuk membantu anak-anak penderita disleksia belajar dengan mengajar mereka membaca dengan metode phonic. Idealnya anak-anak akan mempelajari phonic di sekolah bersama guru, dan juga meluangkan waktu untuk berlatih phonic di rumah bersama orang tua mereka.
Metode phonic ini telah terbukti berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan anak dalam membaca (Gittelment & Feingold, 1983). Metode phonic ini merupakan metode yang digunakan untuk mengajarkan anak yang mengalami problem disleksia agar dapat membaca melalui bunyi yang dihasilkan oleh mulut. Metode ini dapat sudah dikemas dalam bentuk yang beraneka ragam, baik buku, maupun software.
2) Problem Kesulitan Menulis (Dysgraphia)
Disgraphya ini berbeda dengan tulisan tangan yang jelek. Tulisan tangan yang jelek biasanya tetap dapat terbaca oleh penulisnya, dan juga dilakukan dalam waktu yang relatif sama dengan yang menulis dengan bagus. Akan tetapi untuk dysgraphia, anak membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menulis.
Untuk mengatasi problem dysgraphia ini, sangatlah baik apabila kita belajar dari sebuah kasus anak yang mengalami dysgraphia. Sebagian ahli merasa bahwa pendekatan yang terbaik untuk dysgraphia adalah dengan jalan mengambil jalan pintas atas problem tersebut, yaitu dengan menggunakan teknologi untuk memberikan kesempatan pada anak mengerjakan pekerjaan sekolah tanpa harus bersusah payah menulis dengan tangannya.
Ada dua bagian dalam pendekatan ini. Anak-anak menulis karena dua alasan : pertama untuk menangkap informasi yang mereka butuhkan untuk belajar (dengan menulis catatan) dan kedua untuk menunjukkan pengetahuan mereka tentang suatu mata pelajaran (tes-tes menulis).
3) Problem Kesulitan Menghitung (Dyscalculia)
Istilah ‘dyscalculia’, biasanya mengacu pada pada suatu problem khusus dalam menghitung, atau melakukan operasi aritmatika, yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Anak yang mengalami problem dyscalculia merupakan anak yang memiliki masalah pada kemampuan menghitung. Anak tersebut tentunya belum tentu anak yang bodoh dalam hal yang lain, hanya saja ia mengalami masalah dengan kemampuan menghitungnya.
Seperti halnya problem kesulitan menulis dan membaca, ada dua pendekatan yang mungkin : kita dapat menawarkan beberapa bentuk penganganan matematika yang intensif, atau dengan mengambil jalan pintas untuk mengatasi problem kesulitan menghitung.
Pendekatan pertama, yaitu penanganan matematika yang intensif, dapat kita lakukan dengan teknik “individualisasi yang dibantu tim”. Pendekatan ini menggunakan pengajaran secara privat dengan teman sebaya (peer tutoring). Pendekatan ini mendasari tekniknya pada pemahaman bahwa kecepatan belajar seorang anak berbeda-beda, sehingga ada anak yang cepat menangkap, dan ada juga yang lama. Teknik ini mendorong anak yang cepat menangkap materi pelajaran agar mengajarkannya pada temannya yang lain yang mengalami problem dyscalculia tersebut.
Pendekatan kedua, yaitu jalan pintas, diberikan kalkulator untuk menghitung, hal ini sederhana karena anak dengan problem dyscalculia tidka memiliki masalah dengan kaitan antara angka, akan tetapi lebih kepada menghitung angka-angka tersebut.


BAB III
PENUTUP
Pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan, walaupun mungkin saja kemampuan yang dimiliki berbeda satu dengan yang lainnya. pada tingkat pendidikan dasar berbagai kemampuan tersebut masih memiliki relasi yang kuat, membaca, menulis, serta berhitung.
Masalah yang mungkin ada pada pada salah satu kemampuan tersebut dapat menggangu kemampuan yang lain. Dengan demikian apa yang kita sering lakukan baik sebagai seorang orang tua, ataupun seorang guru dengan mengatakan seorang anak yang mendapatkan nilai yang rendah merupakan anak yang bodoh dan gagal perlu menjadi perhatian kita. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa mungkin saja anak hanya mengalami gangguan pada salah satu kemampuan tadi, dan ia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah tersebut.
Untuk itu, yang terpenting bagi kita adalah dapat menelaah dengan baik perkembangan anak kita. Diagnosis terhadap permasalahan sesungguhnya yang dialami anak mutlak harus dilakukan. Dengan demikian kita akan mengetahui kesulitan belajar apa yang dialami anak, sehingga kita dapat menentukan alternatif pilihan bantuan bagaimana mengatasi kesulitan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu & Widodo, Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Wood, Derek et al. Penerjemah Taniputra. 2005. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar (Terjemahan). Yogyakarta : Kata Hati.