Cari Blog Ini

Kamis, 23 Juni 2011

Logika; Penalaran Tidak Langsung, Silogisme

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam mempelajari ilmiah yang menunjuk ke arah kebenaran, logika sangat penting dan berpengaruh. Sedangkan dalam menemukan suatu kebenaran, banyak cara-cara maupun langkah-langkah dalam ilmu logika, seperti pernyataan, penarikan kesimpulan, silogisme dan lain-lain.

B. Rumusan Masalah
1. Penalaran Tidak Langsung
2. Pengertian, hukum, bentuk, susunan dan modus silogisme

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui Penalaran Tidak Langsung
2. Untuk mengetahui pengertian, hukum, bentuk, susunan dan modus silogisme



BAB II
PEMBAHASAN

A. Penalaran Tidak Langsung
Dua bentuk utama penalaran tidak langsung, yaitu induksi dan deduksi. Keduanya dapat dibedakan, tetapi dalam prakteknya keduanya tidak dapat dipisahkan dan saling mengisi.
1. Induksi
Induksi adalah suatu penalaran yang menyimpulkan suatu proposisi umum dari sejumlah proposisi khusus yang berbentuk ‘S ini adalah P’ (subjek ini adalah predikat).
Dalam induksi kesimpulan yang dicapai selalu berupa generalisasi (pengumuman), misalnya: “air kotor menyebabkan penyakit kulit”. Setiap generalisasi induktif diperoleh sesudah dilakukan pengamatan bahwa beberapa atau banyak kejadian berakhir dengan hasil yang sama, maka kemudian si pengamat ‘yakin’ bahwa diwaktu yang akan datang, suatu kejadian yang sama juga akan berakhir dengan hasil yang sama.
a. Induksi tidak Lengkap dan Hakikat kesimpulannya
Induksi tidak lengkap adalah mengamati kejadian-kejadian tetapi tidak diamati atau diselidiki secara menyuluruh namun sudah mengambil suatu kesimpulan umum. Jenis induksi tidak lengkap inilah yang sering kita jumpai. Alasannya sederhana, karena keterbatasan manusia.
Penalaran induktif, sesuai dengan sifatnya, tidak memberikan jaminan bagi kebenaran keimpulannya. Meskipun, misalnya, permis-permisnya semua benar, tidaklah secara otomatis membawa akibat pada kebenaran kesimpulan.


b. Induksi dan Metode Ilmiah
Hubungan induksi dengan metode Ilmiah adalah induksi merupakan dasar metode Ilmiah.
2. Deduksi
Deduksi adalah mengambil suatu kesimpulan yang hakikatnya sudah tercakup di dalm suatu proposisi atau lebih. Kesimpulan tersebut benar-benar sesuatu yang baru dan muncul sebagai konsekuen dari hubungan-hubungan yang terlihat dalam proposisi atau proposisi-proposisi tadi.
Manakala penalaran deduktif diambil struktur intinya dan dirumuskan secara singkat, maka dijumpailah bentuk logis pikiran yang disebut silogisme.

B. Silogisme
Silogisme adalah proses logis yang terdiri dari tiga bagian. Dua bagian pertama merupakan premis-premis atau pangkal tolak penalaran syllogistik. Sedangkan bagian ketiga merupakan perumusan hubungan yang terdapat antara kedua bagian pertama melalui pertolongan term penengah (M). Bagian ketiga ini disebut juga kesimpulan yang berupa pengetahuan baru. Proses menarik suatu kesimpulan dari pemis-premis tersebut disebut penyimpulan.
Suatu premis adalah suatu pernyataan yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga pernyataan tadi menegaskan atau menolak bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar. Suatu premis dapat mengatakan suatu fakta, suatu generalisasi, atau sekedar suatu asumsi atau sesuatu yang spesifik.
1. Syllogisme Kategoris
Syllogisme kategoris adalah stuktur suatu deduksi berupa suatu proses logis yang terdiri dari tiga bagian yang masing-masing bagiannya berupa pernyataan kategoris (pernyataan tanpa syarat). Atau dengan kata lain Syllogisme Kategoris adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan proposisi kategoris. Untuk lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal. Sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus partikular atau singular, tetapi bisa juga proposisi universal, tetapi ia diletakkan di bawah aturan pangkalan umumnya. Dengan demikian satu pangkalan umum dan satu pangkalan khusus dapat dihubungkan dengan berbagai cara, tetapi hubungan itu harus diperhatikan kualitas dan kuantitasnya agar kita dapat mengambil konklusi yang valid. Pangkalan umum disini adalah proposisi pertama sebagai pernyataan universal yang ditandai dengan kuantifier ‘semua’ untuk menegaskan adanya sifat yang berlaku bagi manusia secara menyeluruh. Pangkalan khususnya adalah proposisi kedua, meskipun ia juga merupakan pernyataan universal ia berada di bawah aturan pernyataan pertama. Bila pangkalan khususnya berupa proposisi singular, prosedur penyimpulannya juga sama.
Pernyataan : Semua mahasiswa adalah terdidik
Hasan adalah mahasiswa
Maka kesimpulannya adalah : Hasan adalah terdidik.
Proposisi yang menjadi pangkalan umum dan pangkalan khusus disebut premis, sedangkan proposisi yang dihasilkan dari sintesis kedua premisnya disebut kesimpulan (konklusi) dan term yang menghubungkan kedua premis disebut term penengah (middle term). Premis yang termnya menjadi subyek pada konklusi disebut premis minor. Premis yang termnya menjadi predikat pada konklusi disebut premis mayor. Dikatakan demikian karena predikat hampir selalu lebih luas dari pada subyeknya.
• Hukum-hukum Silogisme Kategorik
1) Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga, seperti:
Semua yang halal dimakan menyehatkan
Sebagian makanan tidak menyehatkan, jadi
Sebagian makanan tidak halal dimakan
(kesimpulan tidak boleh : semua makanan tidak halal dimakan).
2) Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga, seperti :
Semua korupsi tidak disenangi
Sebagian pejabat adalah korupsi, jadi
Sebagian pejabat tidak disenangi
(kesimpulan tidak boleh : sebagian pejabat disenangi)
3) Dari dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.
Beberapa orang kaya kikir
Beberapa pedagang adalah kikir
Jadi: Beberapa pedagang adalah kikir
Kesimpulan yang diturunkan dari premis partikular tidak pernah menghasilkan kebenaran yang pasti.
4) Dari dua premis yang sama-sama negatif, tidak menghasilkan kesimpulan apapun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan dapat diambil bila sedikitnya salah satu premisnya positif. Kesimpulan yang di tarik dari dua premis negative adalah tidak sah.
5) Paling tidak salah satu dari term penengah harus tertebar ( mencakup). Dari dua premis yang term penengahnya tidak tertebar akan menghasilkan kesimpulan yang salah.
6) Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah.
7) Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain.
8) Silogisme harus terdiri dari 3 term, yaitu term subjek, term predikat, dan term middle. Apabila terdiri dari sebuah term tidak bisa diturunkan konklusi, begitu pula bila terdiri dari dua atau lebih dari tiga term.
• Bentuk-bentuk Silogisme Kategorik.
Berdasarkan letak medium (term penengah = middle term) dalam premis, ada 4 macam :
1. Medium menjadi subjek pada premis mayor dan menjadi predikat premis pada premis minor.
2. Medium menjadi predikat baik pada premis mayor maupun premis minor.
3. Medium menjadi subjek pada premis mayor maupun premis minor.
4. Medium menjadi predikat pada premis mayor dan menjadi subjek pada premis minor.
• Absah dan Benar
Dalam membicarakan silogisme kita harus mengenal dua istilah yaitu absah dan benar.
Absah (Valid) berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan diatas dan dikatakan tidak valid bila sebaliknya.
Benar berkaitan dengan proposisi dalam silogisme itu, apakah ia didukung atau sesuai dengan fakta atu tidak. Bila sesuai dengan fakta, proposisi itu benar, bila tidak ia salah.
• Silogisme Bukan Bentuk Baku
Dapat terjadi karena :
a. Tidak menentu letak konklusinya
b. Atau disana seolah-olah terdiri dari tiga term
c. Atau hanya terdapat dua premis tanpa konklusi atau satu premis satu konklusi.
d. Atau proposisinya lebih dari tiga.
2. Syllogisme hipotesis
Syllogisme hipotetis adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari.
Pada silogisme hipotetik term konklusi adalah term yang kesemuanya dikandung oleh premis mayornya, mungkin bagian anteseden dan mungkin pula bagian konsekuennya tergantung oleh bagian yang diakui atau dipungkiri oleh premis minornya.
• 4 macam tipe silogisme hipotetik
1. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian autecedent.
2. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
3. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari autecedent.
4. Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
• Hukum-hukum Silogisme Hipotetik
Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih muda dibanding dengan silogisme kategorik. Namun yang penting disini adalah menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
1. Bila Antecedent terlaksana maka konsekuen juga terlaksana
2. Bila Antecedent tidak terlaksana maka konsekuen tidak terlaksana (tidak sah = salah)
3. Bila konsekuen terlaksana, maka Antecedent terlaksana (tidak sah = salah)
4. Bila konsekuen terlaksana maka Antecedent tidak terlaksana.


3. Silogisme Disyungtif
Silogisme disyungtif adalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif. Sedangkan, premis minornya keputusan kategorika yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor.
Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Seperti : Ia lulus atau tidak lulus
Ternyata ia lulus, jadi
ia bukan tidak lulus.
Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.
Seperti : Hasan di rumah atau di pasar
Ternyata tidak di rumah
jadi di pasar.
Baik dalam arti luas maupun sempit mempunyai 2 tipe yaitu:
1. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusinya adalah mengakui alternatif yang lain.
2. Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif lain.
• Hukum-hukum silogisme disyungtif
1. Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid.
2. Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya:
a. Bila premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah. (benar).
b. Bila premis minor mengingkari salah satu alternatif, konklusinya tidak sah (salah).

4. Dilema
Dilema adalah semacam pembuktian, argumentasi, yang di dalamnya terdiri dari silogisme hipotetik dan silogisme disyungtif. Terjadi karena premis mayornya terdiri dari dua proposisi hipotetik dan premis minornya satu proposisi disyungtif. Konklusinya, berupa proposisi disyungtif, tetapi bisa proposisi kategorika. Dalam dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya sama berat. Konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan.
• Cara Mengatasi Dilema
a. Dengan meneliti kausalitas premis mayor
b. Dengan meneliti alternative yang dikemukakan
c. Dengan kontra dilema
d. Dengan memilih alternatif yang paling ringan
• Hukum-hukum Dilema
1. Putusan disyungtif harus lengkap, menyebut semua kemungkinan.
2. Konsekuensinya harus sah
3. Kesimpulan lain tidak mungkin (tidak boleh dapat di –‘retorsi’ atau dibalik)



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Penalaran tidak langsung terdapat dua bentuk utama yaitu; induksi dan deduksi. Induksi adalah suatu bentuk penalaran yang menyimpulkan suatu proposisi umum dari sejumlah proposisi khusus yang terbentuk ‘S ini adalah P’. sedangkan deduksi adalah mengambil suatu kesimpulan yang hakikatnya sudah tercakup di dalam suatu proposisi atau lebih. Dalam penalaran dapat dijumpai silogisme antara lain:
• Silogisme kategoris
• Silogisme hipotetis
• Silogisme Disyungtif



DAFTAR PUSTAKA


Mundiri, H. 1994. Logika. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Poedjawijatna. 1984. Logika Filsafat Berfikir. Jakarta: Rineka Cipta.
Rapar, Jan Hendrik. 1996. Pengantar Logika. Yogyakarta: Kanisius.
W, Poespoprojo. 1999. Logika Ilmu Menalar. Bandung: Pustaka Grafika.

1 komentar:

  1. kenapa klo di edit tampa blok tp bergerak sendir mengikut rata yg kita kasi

    BalasHapus